Tentu kita sudah tidak asing dengan internet. Perkembangan teknologi membuat internet menjadi penting dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang yang menggunakan internet sebagai media untuk bekerja, hiburan, belajar, mencari informasi, dan berkomunikasi tanpa batas jarak. Namun, kebebasan ini harus diimbangi dengan tanggung jawab.
Banyak orang yang belum mengetahui apa itu etika dalam menggunakan internet. Sehingga orang-orang tersebut tanpa sadar menggunakan internet untuk hal-hal yang negatif. Tanpa etika yang baik, internet dapat menjadi tempat munculnya berbagai masalah, salah satunya cyberbllying.
Pentingnya Etika dalam Penggunaan Internet
Etika merupakan suatu bentuk kesopanan atau rasa hormat seseorang yang ditujukan kepada orang lain dengan tidak memprovokasikannya. Tentunya, kita tidak suka seorang provokator di dunia nyata bahkan dunia maya. Bayangkan, jika seseorang menyebarkan privasimu di media sosial, tanpa izin dan tanpa rasa tanggung jawab. Tentu kamu akan merasa marah, malu, takut, bahkan terancam.
Internet bukanlah ruang bebas tanpa aturan. Setiap komentar, unggahan, atau pesan yang dibagikan memiliki dampak nyata terhadap orang lain. Menyebarkan privasi orang lain tanpa persetujuan termasuk bentuk pelanggaran etika dan bisa menjadi bagian dari tindakan cyberbullying. Itulah pentingnya etika dalam menggunakan internet.
Dengan memiliki akun di dunia maya, berarti kamu sudah menjadi warga digital atau digital citizen yang siap berinteraksi dengan warga lainnya. Kita harus berpikir dengan hati-hati tentang bagaimana bersikap di dunia maya. Salah satu cara yang berguna untuk dijadikan panduan adalah menerapkan sepuluh aturan emas netiket (Netiquette) yang dipopulerkan oleh Virginia Shea yaitu:
1.Remember the Human (Ingatlah bahwa kita manusia)Saat
berkomunikasi di dunia maya kamu harus tetap menyadari bahwa lawan bicara adalah manusia nyata yang memiliki perasaan, meskipun hanya terlihat lewat layar tanpa ekspresi atau nada suara. Karena mudah terjadi kesalahpahaman dan orang cenderung lebih berani atau kasar secara online.
2. Be Ethical (Bersikaplah etis)
Ketika di dunia maya tidak lebih rendah daripada di dunia nyata, jadi hindari perilaku kasar atau mengancam. Ikuti standar perilaku yang sama dengan kehidupan nyata. Jika suatu tindakan ilegal atau tidak etis secara luring, maka hal itu juga berlaku secara daring.
3. Know Where You Are (Perhatikan di mana kamu berada)
Sadari konteks tempat kamu berada. Gaya bahasa di forum santai berbeda dengan lingkungan profesional atau akademis. Contoh, gaya bahasa di email kerja berbeda dengan di media sosial.
4. Respect Other People’s Time and Data Limits (Hormati keterbatasan waktu dan data orang lain)
Hargai kesibukan orang lain dengan mengirim pesan singkat, relevan, tidak panjang, dan tidak membuang-buang kuota atau waktu orang lain dengan informasi yang tidak penting.
5. Make Yourself Look Good Online (Tampilkan citra diri yang baik secara online)
Manfaatkan anonimitas untuk membangun reputasi positif melalui bahasa yang sopan, jelas, argumen yang masuk akal, dan hindari penggunaan huruf kapital semua karena bisa dianggap marah oleh orang lain.
6. Share Expert Knowledge (Bagikan pengetahuan dari ahlinya)
Menggunakan internet untuk berbagi informasi yang bermanfaat kepada orang lain bukan sekadar menyebar hoaks atau gosip karena internet dibangun atas dasar untuk berbagi informasi bermanfaat.
7. Keep disagreement healthy (Jagalah agar ketidaksepakatan tetap sehat)
Hindari flame wars (adu argumen yang emosional dan menghina). Boleh beragumen, namun tetap kendalikan emosi dan tetap sopan.
8. Respect Other People’s Privacy (Hormati privasi orang lain)
Jangan mengintip data pribadi atau pesan dan jangan membagikan data pribadi, foto, atau email orang lain tanpa izin. Privasi daring sama pentingnya dengan privasi si di dunia nyata.
9. Don’t Abuse Your Power (Jangan menyalahgunakan kekuatanmu)
Jika kamu memiliki keahlian akses admin, jangan menyalahgunakan posisi tersebut untuk mengintimidasi atau meremehkan orang lain.
10. Be Forgiving of Other People’s Mistakes (Maafkan kesalahan orang lain)
Bersikaplah sabar dan pemaaf jika melihat kesalahan ketik atau pelanggaran netiket kecil yang dilakukan pengguna lain, terutama pemula.
Cyberbullying sering terjadi karena kurangnya kesadaran akan etika berinternet. Melalui media sosial ini cyberbullying dapat terjadi kapan saja dan menyebar luas dengan cepat. Lewat komentar-komentar negatif, penyebaran hoaks atau konten palsu, bahkan bisa terjadi peniruan identitas.
Pelaku bisa melakukan itu karena dengan media sosial memungkin orang berinteraksi tanpa tatap muka. Di media sosial ini lebih sulit dikendalikan dibandingkan bullying secara langsung. Ketika seseorang merasa anonim atau tidak terlihat secara langsung, mereka cenderung lebih berani berkata kasar atau menyerang orang lain. Padahal, dibalik setiap akun terdapat individu yang memiliki perasaan.
Dilansir dari www.unicef.org sebanyak 45% pengguna internet yang berumur 14-24 tahun pernah mengalami cyberbullying. Jenis perundungan yang sering terjadi diantaranya melalui aplikasi chatting (45%), penyebaran foto/video pribadi tanpa ijin (41%), dan beberapa peleceran lainnya (14%).
Dampak Cyberbullying
Dikutip www.kemenpppa.go.id, Data Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Sebanyak 14,49 persen anak laki-laki dan 13,78 persen anak perempuan usia 13-17 tahun pernah mengalami cyberbullying, sementara empat dari setiap 100 anak menjadi korban kekerasan seksual non-kontak.
Selain itu, menurut www.komdigi.go.id, menteri komunikasi dan digital Meutya Hafid menegaskan bahwa perundungan di dunia maya adalah ancaman nyata. Berdasarkan catatan kemkomdigi 2025, 48 persen anak Indonesia pernah mengalami cyberbullying.
Secara umum, cyberbullying adalah tindakan perundungan, penindasan, pelecehan, atau intimidasi yang dilakukan melalui platform digital, seperti internet, media sosial, aplikasi chatting, dan game online. Tujuannya adalah untuk menakuti, membuat marah, atau mempermalukan korban. Tindakan ini dapat meninggalkan jejak digital dan berdampak serius pada kesehatan mental korban. Beberapa contoh tindakan cyberbullying beserta persentase respondennya berdasarkan Media Kepawaratan Indonesia yang biasa kita temukan.
1.Flaming (Provokasi) 32,14%
Flaming merupakan tindakan memosting atau mengirim pesan berisi kata-kata tidak pantas dengan tujuan memprovokasikan korban. Flaming juga berari menyerang dengan maksud menyinggung seseorang.
2. Harrassment (Pelecahan) 47,44%
Tindakan ini dapat mengganggu dan menimbulkan kerugian secara berulang kali pada orang lain. Fenomena ini bisa terjadi di berbagai platform online, namun tidak terbatas pada media sosial. Seperti Facebook, Instagram, Snapchat, Tiktok, dan Twitter.
3. Denigration (Fitnah) 19,89%
Menyebarkan informasi palsu atau mengumbar keburukan seseorang di internet untuk merusak reputasinya.
4.Trolling 25,52%
Trolling merupakan tindakan memposting tulisan atau membuat pesan anonim yang menghasut tentang korban. Tindakan ini sering kali tidak relavan dengan topik yang dibahas dalam komunitas tersebut. Tujuan pelaku melakukan tindakan ini untuk memprovokasi korban.
Beberapa dampak yang dapat ditimbulkan dari tindakan cyberbullying yaitu:
- Dampak Psikologis dan Mental
- Depresi dan kecemasan: Korban seing merasa sedih, tidak bahagia, cemas, bahkan depresi.
- Keinginan bunuh diri: Hal ini dipicu oleh perasaaan terpojok dan putus asa.
- Trauma dan takut: Merasa terancam secara terus menerus saat sedang online maupun
- Dampak Sosial
- Isolasi sosial: Korban cenderung menarik diri dari lingkunga keluarga dan pertemanan.
- Ketakutan bersosialisasi: Kesulitan membangun kepercayaan dan takut berinteraksi pada orang lain.
- Dampak Akademik dan Produktivitas
- Penurunan prestasi: Motivasi belajar menurun dratis dan sulit untuk fokus.
- Produktivitas kerja menurun: Tekanan emosional mengganggu kinerja harian.
Cyberbullying bukanlah candaan. Hal yang mungkin dianggap bercanda oleh pelaku, bisa menjadi luka mendalam bagi korban. Kata-kata yang ditulis di layar bisa melukai lebih dalam daripada yang dibayangkan.
Sebagai generasi muda yang hidup berdampingan dengan teknologi, kita harus bijak dalam menggunakan internet. Gunakan media sosial untuk menyebarkan hal-hal positif, mendukung sesama, dan tidak berbagi informasi yang salah. Itulah mengapa sangat penting bagi kita untuk mulai membangun budaya yang sehat di era digital. Berikut beberapa strategi utama yang dapat diterapkan untuk membangun budaya digital yang sehat.
- Pentingnya Komunikasi Terbuka
Komunikasi secara terbuka bukan berarti menyampaikan pendapat dengan sembarangan. Namun, komunikasi terbuka adalah bentuk komunikasi yang mengungkan ide tanpa rasa takut dengan komentar orang lain. Contohnya, ketika sedang meeting. Dengan komunikasi terbuka, rasa percaya diri akan meningkat dan terjalinnya kerja sama.
- Penggunaan Teknologi untuk Kolaborasi
Kolaborasi teknologi tidak hanya sekedar untuk berkomunikasi saja, tetapi juga dibutuhkan untuk menghasilkan ide, menemukan solusi, dan menjapai tujuan bersama. Kolaborasi teknologi juga membantu menghindari miskomunikasi antaranggota.
- Pengakuan dan Penghargaan Digital
Pengakuan dan penghargaan teratur dapat meningkatkan motivasi dan moral. Pengakuan ini bisa berupa poin, hadiah, atau sekedar ucapan terima kasih yang diberikan kepada seluruh anggota.
Cyberbullying adalah masalah serius yang dapat dicegah jika setiap pengguna internet memiliki kesadaran dan etika yang baik. Mari bersama-sama menciptakan ruang aman, nyaman, dan penuh rasa hormat.
Dengan menerapkan etika penggunaan internet, ekosistem digital yang aman dapat tercipta. Lingkungan digital yang sehat akan membuat setiap orang merasa nyaman untuk belajar, berbagi, dan berinteraks tanpa rasa takut. Kita tidak hanya melindungi orang lain, tetapi juga menjaga diri kita sendri dari dampak negatif dunia maya.
